Sabtu, 14 November 2015

Konsep Manajemen

Ilmu manajemen diperlukan oleh hampir semua jenis profesi, baik yang bekerja di swasta, pemerintah, yayasan maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ilmu manajemen diperlukan dalam pengelolaan setiap organisasi, baik organisasi bisnis, organisasi sekolah, organisasi profesi, organisasi politik maupun organisasi sosial kemasyarakatan. Oleh Karena itu, dapat dikatakan bahwa pengetahuan akan manajemen sangat diperlukan oleh hamper setiap manusia dalam berkarya.

Defenisi Manajemen

Defenisi manajemen telah berkembang sedemikian rupa sehingga akan dijumpai variasi defenisi manajemen. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Stoner J. A,.RE. Freeman dan DR.Gilbert Jr., 1995). Manajemen adalah seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Mary Parker Follet dalam Stoner J.A., R.E. Freeman dan D.R. Gilbert., 1995).
Dapat pula dikatakan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni, yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, terhadap kinerja organisasi dengan menggunakan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Kinerja merupakan prestasi kerja , misalnya pencapaian omzet, efisiensi, keuntungan, dsb. Sumberdaya adalah input yang digunakan untuk meraih pencapaian kinerja tertentu, dalam bentuk dana, sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan bahan baku.
Manajemen dapat dikatakan sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan yang dapat diperoleh melalui metode ilmiah. Menurut Herawan, A (2006), metode ilmiah merupakan penggabungan antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme merupakan pandangan yang didasarkan pada pikiran yang rasional, sedangkan empirisme merupakan pandangan yang didasari pengalamana yang telah terjadi.
Mengapa manajemen dikatakan sebagai seni? Sebagai ilustrasi, dalam tataran pengambilan keputusan, keputusan yang diambil sering kali bervariasi meskipun mereka diberikan data dan informasi yang sama. Oleh karena itu, manajemen juga merupakan seni, yaitu seni pengambilan keputusan, seni pengelolaan sumber daya manusia (SDM), seni pemasaran, dsb. Terkait dengan keputusan, secara ekstrem dapat dibedakan ke dalam 2 tipe pengambil keputusan, yaitu risk taker (pengambil resiko) dan risk avoider (penghindar resiko).

Pimpinan dan Kompetensi Level Manajerial
Pelaku manajemen adalah “manaejer” dalam arti luas adalah setiap pimpinan dalam organisasi, antara lain mandor, supervisor, manajer maupun direktur. Manajer adalah pihak yang bertanggung jawab mengarahkan berbagai upaya untuk membantu organisasi mencapai tujuannya. Kompetensi merupaka pengetahuan, keterampilan, dan perilaku konsisten yang ditunjukan seseorang dengan kinerja sangat memuaskan. Kompetensi digolongkan ke dalam dua jenis: technical competencies (kompetensi teknis) dan generic competencies ( kompetensi generic atau umum). Technical competencies merupakan kemampuan teknis yang spesifik sesuai pekerjaan  (hard competencies), misalnya keterampilan mengetik, mendesain gambar gambar teknik, dsb. Sedangkan generic competencies merupakan kemampuan yang secara umum diperlukan oleh berbagai pekerjaan (soft competencies), misalnya fleksibilitas, kemampuan analitis, kemampuan antarpribadi, kemampuan kepemimpinan, dsb. 


Gambar 1.1. Kemampuan Manajer

                                

              Kemampuan manajerial merupakan kemampuan pengelolaan organisasi,diantaranya manajemen SDM, manajemen keuangan , manajemen operasi, manajemen pemasaran, manajemen strategis, dsb. Pada prinsipnya dalam dunia pekerjaan terjadi persaingan karier antar pekerja. Semakin tinggi jabatan maka semakin tinggi tingkat persaingannya. Semakin tinggi jabatan, cenderung semakin tinggi tuntutannya terkait kemapuan kepemimpinan (leadership skill) dan kemampuan manajerial  (manajerial skill), sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis akan semakin berkurang. Demikian pula sebaliknya, di level bawah karyawan akan lebih dituntut kemampuan teknis, dibandingkan dengan kemampuan kepemimpinan dan kemampuan manajerial.
              Sedangkan menurut Schermerhorn, J.R. (1996) terdapat 3 jenis keterampilan yang diperlukan manajer adalah:
1.  Technical skill (kemampuan teknis-kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang bersifat teknis atau spesialis.
2.      Human skill (kemampuan antarpribadi)- kemampuan untuk bekerja sama, memahami dan memotivasi orang lain, baik secara individu maupun kelompok.
3.     Conceptual skill (kemampuan konseptual)- kemampuan untuk menganalisis dan mendiagnosis permasalahan yang kompleks. Hal ini meliputi proses identifikasi masalah, mengembangkan alternative solusi, mengevaluasi dan memilih solusi terbaik.


pada prinsipnya, ketiga jenis skill tersebut diperlukan oleh setiap “manajer”, namun proporsi antarlevel “manajer” relatif berberda. Semakin tinggi level manajer maka semakin dibutuhkan kemampuan konseptual (conceptual skill). Sebagai contoh, seorang direktur utama usaha budidaya udang tidak harus mengetahui detail teknis pembenihan sampai pembesaran udang, namun lebih diperlukan memiliki kemampuan membuat strategi untuk memenangkan persaingan bisnis udang. Sedangkan semakin rendah level manajer semakin besar kemampuan teknos (technical skill) yang dibutuhkan.



Tipe “Manajer”
                                                         Gambar 1.2. Level Manajer

Sumber: Schermerhorn, J.R. (1996)

Menurut tingkatannya, “manajer” atau pimpinan organisasi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis manajer,yaitu:
  • First line managers (para manajer level bawah) first line manajer adalah para manajer yang bertanggung jawab terhadap operasional  kegiatan karyawan dan tidak mensupervisi “manajer” lain. First line manajer adalah level manajerial terendah.contoh first line manajer adalah mandor, supervisior,dsb
  • Middle managers (manajer level tengah)  Middle manajgers adalah para manajer yang levelnya berada di tengah dalam hierarki organisasi. Mereka bertanggung jawab  mensupervisi “manajer: level dibawahnya dan bertanggung jawab kepada manajer yang lebih senior. Contoh: manajer pemasaran, manajer pabrik, manajer SDM, manajer keuangan, dsb. Seorang manajer pemasaran biasanya mensupervisi “manajer” pada tingkat bawahnya, misalnya supervisior atau asisten manajer. Disisi lain, manajer pemasaran juga memiliki pimpinan, misalnya general manager (GM) atau direktur pamasaran.
  • Top managers (manajer level atas) Merupakan manajer yang bertanggung jawab terhadap kinerja manajemen secara keseluruhan. Top manager sering kali disebut sebagai eksekutif. Nama jabatannya antara lain Chief Executive Officer (CEO), President, Vice President, dsb.

Peran Manajer

Menurut Stoner J.A., R.E. Freeman dan D.R. Gilbert Jr., (1995) dan Schermerhorn, J.R. (1996), para manajer memiliki tiga peran, yaitu peran antarpribadi (interpersonal roles), peran informasional (informational roles), dan peran keputusan (decisiona; roles). secara singkat, penjelasan mengenai peran manajer dapat dilihat sebagai beriku t:


catatan:
tulisan ini sebagai bahan pembelajaran penulis, sumber: buku pengantar manajemen